JAKARTA - KOMPAS - Tetap produktif saat usia tua bukan tidak mungkin. Namun semua terkait pilihan investasi pada saat muda. "Gaya hidup seseorang pada usia muda ikut menentukan bagaimana kesehatan fisik, mental, dan sosialnya di usia tua, "kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya Jakarta, Etty Indriaty, di Jakarta, Kamis (27/11). Pilihan gaya hidup itu ditentukan kemauan diri.
Pernyataan Etty itu mengutip isi buku Saparinah Sadli berjudul Menjadi Perempuan Sehat dan Produktif di Usia Lanjut, 2014, yang didiskusikan kemarin.
Menurut Saparinah, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, sehat fisik pada orang lanjut bukan berati tidak punya penyakit. Namun, masih bisa mandiri menjalankan aktivitas harian dan hal berguna lain bagi orang lain. "Tujuan aktivitasnya bukan lagi mengejar materi atau prestasi, melainkan demi rasa senang," katanya.
Kesehatan mental orang usia lanjut diukur dari kemampuan mereka beradaptasi dengan berbagai kemunduran fungsi organ tubuh, seperti berkurangnya daya ingat, penglihatan, dan pendengaran. sementara untuk sehat sosial, orang usia lanjut butuh interaksi sosial dengan semua kelompok umur agar mendorong tetap aktif dan mandiri meskipun punya kekurangan.
Etty menambahkan, aktivitas fisik saat muda penting untuk mencegah munculnya berbagai penyakit degeneratif saat seseorang masih berusia produktif, seperti penyakti kardiovaskular, diabetes, kanker, osteoporosis, dan berbagai penyakit yang memicu disabilitas fisik.
Namun, evolusi mata pencarian dari pekerjaan fisik menjadi pekerjaan otak dan pola hidup masyarakat modern membuat aktivitas fisik manusia saat bekerja dan mengisi waktu luang berkurang. Duduk menjadi aktivitas utama masyarakat sehingga berbagai penyakit degeneratif itu muncul lebih awal.
Pelatih kesehatan dan kebugaran Nano Oerip menambahkan, masyarakat dengan pola kerja banyak duduk tetap bisa melakukan aktivitas fisik ringan sambil duduk. Selain untuk kebugaran tubuh, manfaat aktivitas fisik juga untuk melatih kemampuan kognitif mereka.
Penurunan kemampuan kognitif adalah salah satu hal yang harus diantisipasi saat usia tua. Menurut Kepala Program Studi Magister Sains Psikologi Unika Atma Jaya Eunike Sri Tyas Suci, perkembangan kemampuan kognitif orang usia lanjut melambat. "Namun, laju penurunannya bisa ditahan dengan aktivitas yang memicu kerja kognisi," katanya.
Kemampuan kognitif yang paling cepat turun adalah kecerdasan cair (fluid intelligence) yang berbasis sifat biologis, seperti orientasi ruang, bernalar abstrak, bahasa, dan berpikir induktif. Adapun yang penurunannya lambat adalah kecedasan kristal (crystallized intelligence) yang didapat dari proses belajar,seperti memahami makna verbal, asosiasi kata, keputusan sosial, dan kemampuan numerik. (MZW)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar